Sabtu, 26 Februari 2011

Nama Mereka di Buku Tua

Oleh : Shalya Alifiya AT

[para sahabat di panti SLB]

Berhentilah menangis, sayang
Karena aku sudah tak pandai membujukmu
Pula rabun membaca isyarat pilu
Karena aku tak lain adalah sebatang luka dari bekas airmata

Mari sini, baiduri kecilku
sandarkan kepalamu di lubang dada
maka kau akan paham kenapa aku tak pernah mau berbagi rindu
aku kenyang dengan pulut dan ketan yang di tuai dari cerca dan niskala

Aduhai, engkau yang sendiri
padahal kita terbiasa minum dari lubang tanah
menguyah dari akar belantara
tapi kenapa bibirmu tak jua berhenti bergetar
menghalus haluskan tangis yang tak kau sadari membangunkan tidurnya musim kemarau

Andai engkau paham, duh teruna biruku
kau pasti akan bernyanyi dengan mulut mereka yang bisu
aka mendengar dengan telinga mereka yang tuli
akan melihat dengan mata mereka yang buta
maka, berdirilah sayang
kita sudah usai menghukum diri disini...


Senandung Pesisir Garam





Pak, lampu suluh sudah kupanggang sedari tadi
angkat sauhnya dan kita melaut bersama angin ribut
memecah gelombang menjala purnama
menjoran anak ikan ke keranjang

Biar kudayung biduk ke tengah laut
sambil bernyanyi kecil mengusir kantuk
katakan saja, pak...
kalau kita tak hendak menamam petasan di terumbu
karena disana aku pernah menamam rindu

Biarkan saja malam mengadili kita disini
mengajari kita bermimpi menyetubuhi kerat di air laut yang melekat
karena nasib telah menjanjikan kita untuk bertahan duduk disini

Sebelum subuh menyapu kita
rujuki angin yang membawa kita pulang ke tepian pesisir
menghitung butir pepasir
menambat biduk kayu
lalu membagi cerita
Nelayan kecil di rahim malam.